Rabu, 31 Oktober 2007

Ramadhan & La Liga

Muslim stars in giant teams at the Spanish League (La Liga) are the talk of the city, but this time not because of their breathtaking performance but rather their religion.

Spanish dailies have for days been splashing headlines about the holy fasting month of Ramadan in Spanish courts.

FC Barcelona's fans are wondering if their favorite players Yaya Toure, Eric Abidal and Lilian Thuram are fasting or notThe Muslim footballers are in a real dilemma after the team's doctors ruled out in press statements allowing the trio to fast during match days.

During Ramadan, adult Muslims, save the sick and those traveling, abstain during daylight hours from food, drink, smoking and sex.

After moving from France's Monaco for 10 million euros, talented midfielder Toure made it clear that practicing Islam, including fasting, does not affect his successful soccer career. He was named by Eurosport in 2005 as one of the most promising young players in the world.

Compatriot defenders Abidal and Thuram are also playing for the 2006-07 runner-up and a twice winner of the UEFA Champions League.

Abidal, a former Lyon player who signed last season a four-year contract for FC Barcelona for 15 million euros, is known for being an observant Muslim. He has been photographed many times carrying a copy of the Noble Qur'an at his training kits. No Contradiction

The league's last season winner Real Madrid was adamant to let its Muslim midfielder and the backbone of the royal team Mammadou Diarra fast during Ramadan. But both sides have finally reached an agreement preventing Diarra from fasting only in match days.

Frederick Kanoute
, the French striker of Seville FC, the 2006-07 league's third and the holder of last season's cup championship, has ridiculed suggestions that fasting might affect his performance.
"Those who know Islam understand that fasting empowers and does not weaken the Muslim." Kanoute proved his point last season after being crowned the league's top scorer with 20 goals, outperforming football legends such as Brazilian Ronaldinho.

This has convinced his club not to pressure him on his religious beliefs, according to the ABC daily.
Kanoute, a practicing Muslim who regularly performs his prayers even in the locker room, refused last season to wear a jersey advertising for an internet gambling site, because gambling is forbidden in Islam. His team had to give him a brand-free jersey until he accepted wearing the sponsored jersey in return for money to an Islamic charity.

So, how about you???

Selasa, 30 Oktober 2007

Adakah Malaysia Negara Islam??

Fatwa Sheikh Prof. Dr. Wahbah al Zuhaily

( Pengarang kitab fiqh moden terbesar; al fiqh al Islami wa adillatuh dan tafsir moden terbesar; al tafsir al munir )

Soalan : Saya seorang warganegara Malaysia , telah mendengar pelbagai pandangan mengenai adakah Negara Malaysia termasuk di dalam definisi Negara Islam. Saya harap tuan dapat memberi jawapan.

Jawapan Sheikh Prof. Dr Wahbah Az-Zuhayli ( Syria): Sekarang ini kebanyakan Negara Arab dan Islam dilabelkan dengan label Negara Islam. Namun hanya dari sudut politik. Realitinya tidak demikian. Kerana sifat sebenar Islam dan pelaksanaan syariat hilang ( tidak wujud ) pada realitinya. Boleh jadi, penamaan ( pelabelan ) ini diterima kerana kebanyakan penduduknya orang Islam dan kerana syiar-syiar Islam ditegakkan di negara itu. Maka bolehlah dinamakan (Negara) "Islam" namun secara simboliknya sahaja bukanya realiti.

*Dipetik dari www.zaharuddin.net

The Ten Principles of Hassan Al-Banna

1.) The Unity of the Ummah. He considered it in itself a primary and important goal that we must strive for. "Do no disagree, then you fail and lose the wind (in your tail)."

2.) The Agreement on Principal Matters. Such that we start by considering everyone who declares shahadah - La ilah illaAllah, Muhammad arrusulAllah - as our companion and part of the Muslim group.

3.) Assume First that You, Not Your Muslim Brother, May be Wrong. And see how you find the truth impartially.

4.) The Manners for Disagreement. That you should be as keen about listening to your brother's evidence and argument as you are about giving your evidence and argument, and be pleasant and smiling whether the result is for you or against you.

5.) Avoiding Arguing, Self-Righteousness, and Belittling of Others. Al Banna said: "No nation went astray after being guided, except after it fell to cursing and arguing." And: "He will have a place in Heaven that leaves arguing when he is wrong, and a higher place in Heaven if he leaves arguing when he is right."

6.) The Possibility of Mulitiple Correct Answers. He referred to the Prophet telling the sahabah to pray Asr in Bani Quraiza, how some of them prayed Asr when it's time came, while others prayed it when they reached Bani Quraiza after sundown, and how the Prophet praised both parties.

7.) The Group Participation in Agreed Upon Matters and to Excuse One Another in What is Disagreed Upon. He emphasized, "We all agree on prohibiting alcohol, adultery, and gambling, and we agree on the duty to govern according to Quran so let us invite governments to implement it; we agree that honor and respect are due to Muslims, so let us impart these ideals to Muslims, we agree that jihad is the means to accomplish honor so let us train the individual, and to raise children with the necessary spiritual and physical training."

8.) Thinking of the Danger of the Common Adversary. He reminded Muslims of the present external enemies who do not differentiate between Muslims or different views or different national origin. The enemy considers Muslims enemies of his religion, and their homelands a prize to be dominated for its resources. He emphasized the need for unity to deter aggression.

9.) Opening the Avenues for Work and Productivity. He recognized the duel purpose of working hard, to produce more and to stay free from the evil of idleness. He encouraged members to excel in schools and jobs, and to seek earning from lawful sources and to shun laziness and dependence on others. He encouraged them to fill in duties that others have not even identified, such as visiting brothers far and near, volunteerism, and to allow time each day for examining how they have done for the sake of Allah.

10.) Sympathy for Those Who Do Not See the Light. Rather than being angry with them or exposing their shortcomings. He never attacked his accusers or distractors on personal matter, but rather sought Allah's help in making His message clearer to those who were listening.

Lobak, Telur & Serbuk Kopi

Pada suatu hari, seorang pemuda kelihatan gelisah kerana beranggapan hidup terasa amat menyakitkan. Setiap kali dapat menyelesaikan sesuatu kerumitan, timbul pula masalah lain.

Akhirnya pemuda itu bertemu dengan ayahnya, seorang tukang masak. Dia menceritakan masalah yang dihadapinya dan didengar dengan sabar oleh bapanya. Selepas habis dia mencurahkan perasaannya, bapanya membawa pemuda itu ke dapur.

Di situ, si ayah mengisi tiga periuk dengan air dan meletak periuk itu di atas api. Apabila air mendidih, dia memasukkan lobak merah di dalam periuk pertama, telur di periuk kedua dan serbuk kopi di periuk ketiga. Bahan itu dibiarkannya mendidih. Si anak tertanya-tanya dan menunggu dengan tidak sabar sambil memikirkan apa yang dilakukan ayahnya.

Setelah 20 minit, si ayah mematikan api. Ia menyisihkan lobak dan meletaknya dalam mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk lain, dan menuangkan kopi ke dalam mangkuk lainnya. Lalu ia bertanya kepada anaknya: Apa yang kau lihat, nak? “Lobak, telur dan kopi,” jawab si anak.

Si ayah mengajaknya mendekati mangkuk dan memintanya merasai lobak itu. Pemuda itu menurut dan dirasakan lobak itu enak. Ayahnya meminta pemuda itu mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebiji telur rebus yang mengeras. Terakhirnya, ayahnya meminta dia merasai kopi. Pemuda itu tersenyum ketika merasai kopi dengan baunya yang harum.

“Apa erti semua ini, ayah?” tanya pemuda itu.

Ayahnya berkata, tiga bahan yang direbus tadi menghadapi kesulitan yang sama apabila direbus dalam air yang mendidih tetapi setiap satu menunjukkan reaksi berbeza. Sebelum direbus, lobak bersifat keras dan sukar dipatahkan. Namun selepas direbus, lobak menjadi lembut dan lunak. Telur pula sebelumnya mudah pecah tetapi apabila direbus, isinya menjadi keras. Serbuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada dalam rebusan, serbuk kopi mengubah air berkenaan.

“Kamu termasuk dalam kategori mana?” tanya si ayah. Pemuda itu terdiam.

Air mendidih itu umpama kesukaran dan dugaan yang kamu lalui. Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau meghadapinya? Apakah kamu lobak, telur atau kopi?..

Pemuda itu termenung memikirkanya. Jika kamu lobak yang kelihatannya keras, kamu akan mudah menyerah kepada penderitaan dan kesulitan. Kamu bakal kehilangan kekuatan. Atau kamu adalah telur yang awalnya memiliki hati lembut, dengan jiwa yang dinamik, tetapi dengan adanya cabaran dan kegagalan, menjadi keras dan kaku, walaupun kelihatan sama pada luarannya. Ataukah kamu adalah serbuk kopi? Ia mengubah air panas yang menyakitkan itu. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.

Sepatutnya kamu menjadi serbuk kopi ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga menjadi semakin baik, jelas si ayah dengan penuh pengajaran kepada anaknya itu.

Kesimpulanya, pelbagai masalah kunjung tiba sebagai satu cabaran dari Allah untuk melihat sejauh mana tegarnya atau sabarnya kita menahan ujian dariNya itu.

Kita mestilah jadi bak kopi yang mana bila melalui satu julat kepanasan yang tinggi apabila dididihkan dalam air yang panas, maka ia bertukar menjadi air kopi yang sangat harum dan menyegarkan si peminumnya.

Air yang panas tadi ibarat masalah yang kita hadapi, untuk melihat kita sabar melaluinya atau tidak. Jika kita mengalah awal, maka kita seperti lobak yang lembik atau keras kaku seperti telur yang telah direbus

22 Soalan Paderi VS 1 Soalan Pemuda Islam

Ada seorang pemuda Arab yang baru saja menyelesaikan pengajian peringkat ijazah di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan dia mampu mendalaminya. Selain belajar, dia juga seorang juru dakwah Islam.Ketika berada di Amerika, dia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah s. w. t. memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar dia turut masuk ke dalam gereja.

Pada mulanya dia keberatan, namun karena desakan akhirnya pemuda itu pun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka.

Ketika paderi masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk. Di saat itu, si paderi agak terbeliak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada seorang Muslim. Aku harap dia keluar dari sini."

Pemuda Arab itu tidak bergerak dari tempatnya. Paderi tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun dia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Hingga akhirnya paderi itu berkata, "Aku minta dia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya."

Barulah pemuda ini beranjak keluar. Di ambang pintu, pemuda bertanya kepada sang paderi, "Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang Muslim?" Paderi itu menjawab, "Dari tanda yang terdapat di wajahmu." Kemudian dia beranjak hendak keluar. Namun, paderi ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memalukan pemuda tersebut dan sekaligus mengukuhkan agamanya.

Pemuda Muslim itupun menerima tentangan debat tersebut. Paderi berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat. "Si pemuda tersenyum dan berkata, "Silakan!"

Sang paderi pun mulai bertanya,"Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya, lima yang tiada enamnya, enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada delapannya, delapan yang tiada sembilannya, sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dua belas yang tiada tiga belasnya, tiga belas yang tiada empat belasnya. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!

Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!

Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diazab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diazab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu??Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!

Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?"

Mendengar pertanyaan tersebut, pemuda itu tersenyum dengan keyakinan kepada Allah. Setelah membaca Basmalah dia berkata,

-Satu yang tiada duanya ialah Allah s. w. t.

-Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. Allah s.w.t.berfirman, "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)."(Al-Isra': 12).

-Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.

-Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.

-Lima yang tiada enamnya ialah Solat lima waktu.

-Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah Hari ketika Allah s. w. t. menciptakan makhluk.

-Tujuh yang tiada delapannya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah s.w.t. berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).

-Delapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy Ar-Rahman. Allah s. w. t. berfirman, "Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat men-junjung 'Arsy Rabbmu di atas (kepala mereka)." (Al-Haqah: 17).

-Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya,angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.

-Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. Allah s. w. t.berfirman, "Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).

-Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara2 Nabi Yusuf .

-Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya,lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).

-Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.

-Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh. Allah s. w. t. berfirman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. " (At-Takwir: 18).

-Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan Nun yang menelan Nabi Yunus AS.

-Mereka yang berdusta namun masuk kedalam surga adalah saudara-saudara Nabi Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumbadan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala. " Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, " tak ada cercaan terhadap kamu semua. "Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepadaRabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Yusuf: 98)

-Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keldai. Allah s. w. t. berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keldai." (Luqman: 19).

-Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.

-Makhluk yang diciptakan dari api adalah iblis, yang diazab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah s. w. t. berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya': 69).

-Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diazab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashabul Kahfi (penghuni gua).

-Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya wanita, sebagaimana firman Allah s. w.t.: "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).

-Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam hari dan Dua di siang hari.

Paderi dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda Muslim tersebut. Kemudian dia pun mula hendak pergi. Namun dia mengurungkan niatnya dan meminta kepada paderi agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh paderi.

Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?" Mendengar pertanyaan itu lidah paderi menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Dia berusaha menyembunyikan kekuatirannya, namun tidak berhasil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun dia cuba mengelak. Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya dia jawab, sementara dia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! "

Paderi tersebut berkata, "Sesungguh aku tahu jawapannya, namun aku takut kalian marah."Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda. "Paderi pun berkata, "Jawapannya ialah: " Asyhadu An La Ilaha Illallah Wa WaAsyhadu Anna Muhammadar Rasulullah. ". Lantas paderi dan orang-orang yang hadirin gereja itu terus memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda Muslim yang bertakwa.

Perang di Kolej

Banyak kolej yang saya hadir, pelajar yang mahu kepada Islam asyik berbalah tentang baca Yasin tu syar’ie atau tidak, tetapi mereka ’syok sendiri’. Mereka terlupa bahawa pelajar yang Khamis malam Jumaatnya penuh dengan clubbing adalah lebih ramai dari yang mempertahankan Yasin Khamis malam Jumaat tersebut.

Apabila timbul di internet, atau majalah, isu-isu yang berkaitan dengan MANHAJ, maka kita selalu menemui ulasan bahawa isu ini semakin hangat dibicarakan di kampus! Walhal yang membincangkannya hanya 20% sahaja, sedangkan yang 80% langsung tidak ambil tahu dan lebih berminat untuk bertelanjang. Maksud saya, menelanjangkan diri dari agama, kerana agama amat mengelirukan dalam sehari dua ini.

Kita bincang secara terbuka isu-isu khusus yang hanya layak disertai oleh mereka yang sudah ada asas usrah, kuliah, dan tamrin. Kita sangkakan isu itu besar dan bertaraf nasional. Antaranya adalah isu UMMAH CENTRIC dan JAMAAH CENTRIC. Sedangkan 80% pembaca, pemerhati, dan mereka yang berada di sekitar kampus, tidak tahu hujung dan pangkal perbincangan. Di manakah relevannya masyarakat pelajar seperti ini diajak kepada perbincangan tentang mazhab, salaf dan khalaf, ketika mana mereka sendiri tidak pasti sejauh manakah mereka perlukan Tuhan dalam hidup ini? Sukar untuk saya mengungkaikan soalan tersebut, tetapi saya cuba menyuluhnya dari sudut yang biasa saya gunakan iaitu isu SIKAP.

Ya, guru-guru sama ada yang bermanhaj salaf atau khalaf ramai yang ghairah mengajar fakta tetapi lupa mengajar SIKAP. Akhirnya pendirian salaf dan khalaf tercemar oleh SIKAP yang menjelekkan sama ada oleh guru mahu pun anak muridnya.

Ramai yang bermati-matian mempertahankan hukum Isbal, memakai pakaian di atas buku lali dengan penuh kekasaran dan kesombongan. Mereka terlupa yang kesombongan mereka itu sama seperti golongan bangsawan Arab yang melabuhkan pakaian untuk menonjolkan kekasaran dan kesombongan yang sama. Manhaj bertukar, sikap masih sama.

Manakala di satu sudut yang lain, golongan yang bertentangan pula bermati-matian mempertahankan CARA BELAJAR tetapi tidak mempedulikan HASIL BELAJAR. Kitabnya kena begini, duduknya kena begini, tradisinya kena begini, hasilnya mereka tidak peduli. Malah ada yang belajar zikir khas untuk mempertahankan diri dari Wahabi! Aduh, apakah Wahabi ini sihir dan santau? Saya mengeleng sampai terpeleng.


Saya berasa simpati dengan ustaz-ustaz muda yang membimbing Mata Pelajaran LAN di kolej-kolej, khususnya kolej swasta, yang disanggah oleh anak-anak muridnya yang memandang rendah kepada ustaz berkenaan kerana solat Subuhnya berqunut. Saya tidak menokok tambah komentar saya terhadap isu ini tetapi ia adalah hasil pertemuan saya dengan ramai tenaga pengajar kolej yang memohon perkongsian idea bagi menyelesaikan masalah pelajar mereka.

Ketika ustaz-ustaz ini berpenat lelah mencari formula menjinakkan anak murid mereka yang jauh dari agama, mereka terpaksa pula bertempur dengan warga surau yang sangat keras mempertahankan kaedah-kaedah solat yang baru mereka pelajari. Mereka sekali lagi terlupa bahawa 80% pelajar memilih untuk bertelanjang. Menelanjangkan diri mereka dari agama, kerana agama dalam sehari dua ini amat mengelirukan. Siapakah yang mengelirukan 80% pelajar ini? Tidak lain dan tidak bukan, kita sendiri. Orang yang belajar agama tetapi tidak belajar cara beragama.

Suatu ketika, saya amat skeptik dengan istilah ‘BELAJAR KENA BERGURU’ sebab pada masa itu, pelajar yang belajar di universiti disanggah oleh pejuang aliran tradisional bahawa kononnya mereka ini banyak baca sendiri dan tidak berguru. Tetapi saya mahu meminjam kembali istilah berkenaan untuk ditujukan kepada anak-anak muda di kolej dan universiti hari ini yang gurunya adalah buku, internet, majalah dan vcd. Belajar biarlah berguru!

Buku mengajar kita ilmu, tetapi buku tidak mengajar kita cara membawa ilmu. Kita berilmu, tetapi horizon kita di dalam membudayakan ilmu itu ke persekitaran, amat sempit.


Saya masih ingat, semasa Sheikh Solah Abd al-Fattah al-Khalidi, seorang tokoh tafsir, ditanya oleh anak muridnya tentang satu masalah di dalam Hadith, beliau menerangkannya dengan panjang lebar, tetapi kemudiannya mencadangkan agar soalan itu diajukan kepada rakannya, Sheikh Hammam Saeed yang lebih pakar tentang Hadith. Apabila soalan tentang Tafsir ditanya kepada Sheikh Hammam Saeed oleh anak muridnya, beliau menjawab dengan jawapan yang seluas-luasnya tetapi kemudiannya mencadangkan kepada anak muridnya supaya bertanya kepada Sheikh Solah al-Khalidi yang lebih pakar di dalam Tafsir. Ya, sikap saling hormat menghormati sesama Tuan Guru ini tersimbah kepada saya yang menumpang belajar sedikit sebanyak.

Sheikh Solah juga pernah menegur golongan yang berkeras untuk membanteras ’solat Qabliah Jumaat’. Antara yang saya masih ingat, beliau bertanya, apakah pada hari Jumaat kita digalakkan membanyakkan solat Sunat? Jika ya, maka ketika ‘orang lain’ itu bersolat Qabliah Jumaat, dirikan sahaja solat Sunat secara mutlak, demi dakwah. Tidak perlu menonjolkan ‘kelainan kita’ jika hanya mengundang kemudaratan kepada dakwah.

Semasa saya bertugas di Belfast, jemaah di masjid saya berbalah tentang penyelesaian solat Isyak di musim panas. Pada musim panas, kami menghadapi masalah kerana Isyak yang masuk terlalu lewat, sekitar jam 11:50 malam, manakala solat Fajar pula masuk jam 2:15 pagi. Dalam masa yang sama ada pula beberapa ketika solat Isyak langsung tidak wujud kerana kemerahan cahaya matahari tidak hilang sampai pagi. Saya mengikut fatwa Majlis Fatwa Eropah yang dipimpin oleh Sheikh Yusof al-Qaradawi agar masjid menjamakkan Solat Maghrib dan Isyak. Tetapi ada sekumpulan jemaah di masjid yang menentangnya.

Ketika itu saya berpeluang untuk ke Jordan dan saya mengambil kesempatan untuk mengajukan soalan ini kepada beberapa orang pakar rujuk Fiqh di University of Jordan. Jawapan mereka sungguh mengagumkan saya.

Mereka berkata bahawa setelah Sheikh Yusof al-Qaradawi memberikan fatwa tentang hal ini, maka mereka tidak mempunyai sebarang hak untuk memberikan pandangan. Apatah lagi Sheikh Yusof al-Qaradawi berada di Eropah dan mengetahui suasana sebenar di sana. Mereka mengingatkan saya supaya menasihati ahli jemaah di masjid saya agar menghormati fatwa Sheikh Yusof al-Qaradawi dan memelihara kesatuan umat Islam di sana.

Ya, akhlak ini tidak mungkin tersentuh dan terserap ke jiwa saya jika saya membina manhaj hanya dengan membaca buku, majalah dan vcd. Keberkatan terhadap proses menuntut ilmu, tersimbah pada yang hadir di majlis ilmu, maka kalau mahu menjadi mukmin profesional, protaz, uspro, ustat (ustaz photostat), tazpro atau apa sahaja, maka biarlah melalui susur proses yang sejahtera.

Dan guru-guru pula jangan sibuk melambakkan fakta semata-mata. Sebaliknya didiklah dan bentuklah sikap anak murid agar bijak ‘membawa agama’. Ketika mengajar, pandaikan orang, jangan hanya tunjuk pandai depan orang.

Jangan lupa, 80% remaja kita mengambil keputusan untuk bertelanjang. Mereka menelanjangkan diri dari agama, kerana agama dalam sehari dua ini sungguh mengelirukan.

Moga Allah mengurniakan tsabat kepada kita di jalan Ghurabaa’!

ABU SAIF @ www.hasrizal.com56000 Cheras 14 Jun 2006

Berlapang Dada dalam Perkara Furu'

Semasa hayat Hasan al-Banna, beliau pernah berhadapan dengan suatu peristiwa yang berlaku di bulan Ramadhan. Ahli Jemaah di sebuah masjid bertelagah soal rakaat Solat Tarawih, sama ada patut dibuat lapan atau dua puluh rakaat. Suasana begitu tegang sehingga timbul bahasa-bahasa yang keras.

Akhirnya, apabila Hasan al-Banna muncul, beliau ditanya oleh mereka yang bertelagah itu, mana satukah pendapat yang betul dalam hal ini?

Kata Hasan al-Banna, “Apakah hukum solat tarawih dan apakah pula hukum menjaga kesatuan umat Islam?”

Mereka menjawab, “solat tarawih itu sunat, manakala menjaga kesatuan umat Islam adalah wajib”.

Lantas Hasan al-Banna menjawab, “Apakah kamu mahu mengorbankan kesatuan umat Islam yang wajib itu hanya kerana soal solat terawih yang sunat? Bagi yang mahu menunaikan lapan, tunaikan lapan, bagi yang mahukan 20, bebas juga berbuat demikian”.

Sebagai umat Islam, kita seharusnya berlapang dada dalam perkara-perkara furu'. Jangan kecilkan skop agama sehingga kelihatan agama Islam itu sangat sukar untuk dipraktikkan dan dalam masa yang sama ia akan menjauhkan orang bukan Islam kepada keindahan Islam.

Antara 2 Cinta

Apa yang ada jarang disyukuri
Apa yang tiada sering dirisaukan
Nikmat yang dikejar barukan terasa
Bila hilang
Apa yang diburu timbul rasa jemu
Bila sudah di dalam genggaman

Dunia ibarat air laut
Diminum hanya menambah haus
Nafsu bagaikan fatamorgana di padang pasir
Panas yang membahang disangka air
Dunia & nafsu bagai bayang-bayang
Dilihat ada, ditangkap hilang

Leraikanlah dunia
Yang mendiam di dalam hatiku
Kerana disitu tidakku mampu
Mengumpul dua cinta
Hanya cintamu ku harap tumbuh
Dibajai bangkai dunia yang ku bunuh

Apa yang ada jarang disyukuri
Apa yang tiada sering dirisaukan
Nikmat yang dikejar barukan terasa
Bila hilang
Apa yang diburu timbul rasa jemu
Bila sudah di dalam genggaman

Leraikanlah dunia
Yang mendiam di dalam hatiku
Kerana di situ tidakku mampu
Mengumpul dua cinta
Hanya cintamu ku harap tumbuh
Dibajai bangkai dunia yang ku bunuh

-Raihan & The Zikr-

Isnin, 29 Oktober 2007

Layakkah Untuk Bergelar Seorang Hamlatul Qur'an?

Bisikan ketenangan menyelubungi nurani, kesyahduan ku rasakan amat bererti, acap kali ku terdengar alunan suara insan-insan kerdil membasahi lidah dengan kalamMu Ya Ilahi, tiada putus-putus mendampingi kitabMu, membaca, mentadabbur, meneliti ayat-ayat suci. Segolongan insan yang dihormati, segolongan insan yang dipandang tinggi, inilah insan yang bergelar Hamlatul Quran, iaitu pendukung kitab suci.

Hamlatul Quran
itulah aku.

Terngiang-ngiang di telingaku ungkapan kata yang penuh makna, yang hanya dapat dihayati oleh hati-hati yang suci. Wasiat Ibnu Mas’ud yang berbunyi:
“Seharusnya bagi seorang Hamlatul Quran itu mengetahui.. malamnya ketika manusia dibuai mimpi, siangnya ketika manusia enak menikmati juadah, tangisannya ketika manusia bergelak ketawa, diamnya ketika manusia berkata yang sia-sia, dan khusyuknya ketika manusia leka dengan kehidupan dunia...”
Aku merenung sejenak, Hamlatul Quran...begitukah aku?

Kata-kata itu mengetuk fikiranku, menyentuh hatiku, menyedarkan aku dari lamunanku, betapa Hamlatul Quran yang hakiki adalah insan-insan yang sanggup bermujahadah dalam kepayahan, mampu berkorban dalam tangisan dan rela imannya diuji dalam keperitan. Baru ku sedar, Hamlatul Quran..kau luar biasa!

Tatkala ku imbas kembali kisah silamku yang penuh dengan kelalaian, kealpaan, keseronokan seperti orang-orang kebanyakan, sememangnya tidak layak untuk diri ini dianugerahi dengan permata Ilahi yang nilainya terlalu tinggi jika dibanding dengan diri yang dhaif ini..

Namun... Kau anugerahkan jua aku kemuliaan ini, menjadi salah seorang insan pilihanMu, di dalam dunia Hamlatul Quran yang penuh dengan janji-janji manis di akhirat nanti.

Tidak mahukah engkau dibangkitkan dengan sinaran cahaya jernih yang terpancar pada wajah yang berseri-seri? Hamlatul Quran, alangkah beruntungnya dikau..!

Sahabat-sahabat Al-Quran, sudahkah Al-Quran menakluki jiwamu? Menjadi kekasihmu, buah hatimu yang tiada bertepi? Ataukah manusia yang yang masih bertakhta di sanubari? Ataukah kasih manusia yang masih kau dambai?

Pernahkah kau rasakan Al-Quran itu teman sejati? Adakah impianmu sekadar satu ilusi dalam fantasi yang implikasinya tidak sama dengan realiti kehidupan Hamlatul Quran?

Sahabatku... ingatlah, kita dipertemukan kerana Al-Quran, ukhuwwah mahabbah yang terjalin ini atas nama Al-Quran, dan semoga perpisahan kita adalah semata-mata untuk meneruskan perjuangan demi Al-Quran.

Ya Allah, jadikanlah aku seorang Hamlatul Quran yang sejati dan hakiki, sebagai penyejuk mata, penawar hati setiap insan di muka bumi. agar kehadiranku di dunia ini dihargai. Berkatilah aku dengan anugerah kemuliaan yang Kau beri. Sesungguhnya kehidupan di dalam dunia ini sungguh indah tidak terperi dengan alunan ayat-ayat suci yang sentiasa bermain di mulut, di telinga dan di hati.

Lantas itu, ku pinta padaMu Ilahi, agar saat-saat akhir hayatku, alunan kalamMu jua yang mengiringi pemergianku.